Inilah Kami, Sejati….

August 10, 2006

Perempuan, merupakan masyarakat yang populasinya melebihi setengah dari bangsa ini. Jumlah yang cukup besar jika potensi yang mereka miliki ini dikembangkan dengan penuh keseriusan, komitmen, kesinambungan, dan kerja sama.

Bagian yang terpenting untuk menumbuh kembangkan potensi mereka adalah dengan pendekatan ‘apa yang mereka inginkan’, karena secara kodrati peran perempuan sangat luas dan kompleks, baik pada kehidupan di dalam rumah tangga, masyarakat, maupun Negara kita.

Disadari bahwa perempuan Indonesia tak lepas dari permasalahan-permasalahan yang mewarnai perjalanan kehidupan dalam rangka memperoleh kebahagiaan dan kesejahteraan mereka. Permasalahan yang menimpa perempuan Indonesia saat ini merupakan bagian yang tak terpisahkan dari krisis multidimensional yang berakar dari akumulasi krisis moralitas yang menimpa bangsa Indonesia dan mendapatkan momentum dengan meletusnya krisis ekonomi pada tahun 1997. Krisis ini telah memporakporandakan tatanan kemasyarakatan yang ada dan melahirkan berbagai penyakit sosial yang tidak sederhana mencari jalan keluarnya. Pada saat yang sama krisis tersebut bertemu dengan perhatian dunia terhadap kondisi kaum perempuan di negara-negara ke tiga. Maka secara serentak mengemuka berbagai issue terkait dengan ketidak berdayaan perempuan, seperti issue kemiskinan, kesehatan, pendidikan, kekerasan terhadap perempuan, perempuan dan akses ekonomi, perempuan dalam pengambilan kebijakan publik, perempuan dan konflik bersenjata serta issue-issue keperempuanan yang lain.

Data Biro Pusat Statistik tahun 2000 menunjukkan beberapa indikator permasalahan kaum perempuan yang mendesak untuk dicari jalan keluarnya. Masalah kemiskinan misalnya, menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan. Jumlah penduduk miskin mengalami peningkatan dari 34 juta jiwa pada tahun1996 menjadi 48 juta jiwa di tahun 1999. Sementara itu jumlah rumah tangga miskin juga mengalami peningkatan yang pada tahun 1996 berjumlah 6,36 juta meningkat menjadi 9,64 juta di tahun 1999. Di sektor kesehatan indikator yang perlu dicrmati adalah masih tingginya Angka Kematian Ibu (AKI) meski mengalami penurunan namun masih relatif tinggi yaitu rata-rata 330 orang per 100000 kelahiran hidup. Angka ini relatif tinggi bila dibandingkan dengan negara-negara ASEAN. Angka anemia ibu hamil juga masih cukup tinggi dimana 5 dari 10 ibu hamil menderita anemia.

Di sektor pendidikan meski tidak tampak ada diskriminasi antara laki-laki dan perempuan untuk memperoleh pendidikan dasar namun angka buta huruf wanita masih lebih banyak dari pria. Media televisi yang dimanfaatkan oleh sebagian besar masyarakat baik laki-laki maupun perempuan belum menunjukkan komitmennya sebagai sarana pendidikan yang efektif tetapi lebih sekedar bisnis hiburan yang justru cenderung destruktif.

Permasalahan lain yang mendesak untuk dicermati adalah kekerasan terhadap perempuan, pelecehan seksual dan perkosaan yang meningkat setiap tahunnya. Tercatat angka perkosaan mengalami peningkatan setiap tahunnya th 1997 :299 kasus ,th 1998 :338 kasus dan th 1999: 488 kasus. Demikian pula kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) juga mengalami peningkatan. Permasalahan serius lainnya adalah terjadinya kekerasan di berbagai wilayah konflik seperti di Aceh, Poso, Maluku, Kalbar dll. Konflik ini menyebebkan terjadinya gelombang pengungsian yang sebagian besar terdiri dari wanita dan anak-anak.

Berangkat dari filosofi untuk memberdayakan potensi perempuan maka kami, Lembaga Pemberdayaan Potensi Perempuan Sejati (LP3 Sejati) sebagai salah satu lembaga yang mempunyai misi untuk memberdayakan, membina dan mengembangkan potensi perempuan, berusaha mempersiapkan diri untuk memfasilitasi kaum perempuan yang berusaha meningkatkan mutu baik dari sisi intelektual, keterampilan, pengembangan diri maupun kekuatan rohani. Sehingga diharapkan akan terbentuk pribadi – pribadi yang mandiri serta bermanfaat bagi kehidupan dengan kualitas diri yang tinggi.

Sebagai persiapan diri, Lembaga Pemberdayaan Potensi Perempuan Sejati (LP3 Sejati) melengkapi sarana dan prasarana yang dibutuhkan baik software, hardware maupun brainware-nya yang diharapkan mampu menjadi penyeimbang dan pelengkap berbagai macam kebutuhan di atas maupun kebutuhan-kebutuhan lainnya.

“ Manusia itu berusaha, Allahlah yang menentukan (Surat Kartini kepada Ny. Ovink-Soer, Oktober !900)